Belajar Menjadi Haji Yang Tawadhu dan Bijak*

Avatar photo

JMPD News - Admin

, 05 Juni 2026 | 63x

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Belajar Menjadi Haji Yang Tawadhu dan Bijak*

Ustadz Ahmad Ghozi Siddiq

Makkah - jmpdnews 

Materi khutbah Jumat, 19 Dzulhijjah 1447H/5 Juni 2026.

Hadirin Dhuyufur Rahman Rahimakumullah.

Dalam suatu hadits, Rasulullah Saw menyampaikan bahwa bahwa jumlah Nabi ada 124.000 dan jumlah rasul ada 313 saja. Nabi dan Rasul yang wajib diketahui ada 25 orang. dan Nabi yang masuk kategori ulul Azmi ada 5 orang. Termasuk nabi Musa as.

Nabi Musa merupakan nabi yang namanya paling banyak disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 136 kali.

Nabi Musa pernah ditanya siapakah orang yang paling pintar saat ini?

Jawab Musa as, sampai saat ini saya belum menemukan bahwa ada lagi yang lebih pintar dari saya. Akhirnya Allah menegur Musa dengan memberi tahu bahwa ada hamba Allah SWT (bernama Khidir) yang memiliki ilmu lebih hebat dari Nabi Musa.

Sehingga Nabi Musa diminta mencari dan berguru kepadanya. Cerita tentang dialog Musa dan Khidir disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 55-82. Diantara ayat tersebut pada ayat 56, nabi Musa menyampaikan izin mau belajar dengan nabi Khidir.

Apakah saya boleh mengikutimu untuk belajar ilmu darimu dan (mendapat) bimbinganmu?.

Ayat ini mengindikasikan bahwa Musa menjadi sangat tawadhu setelah bertemu Khidir.

Padahal nabi Khidir tidak sekalipun namanya disebut dalam al-Quran, tapi hanya disebut dalam hadits nabi Muhammad Saw. Sedangkan nabi Musa 136x disebut namanya dalam al-Quran.

Dari sini kita ketahui bahwa kemuliaan bukan karena namanya terkenal, tapi Allah Swt maha tahu siapa yang paling takwa dan paling mulia diantara kita.

Dalam riwayat lain dalam kitab Al-Milal wan Nihal karya As-Sahrustani, di sana ada dialog antara Nabi Musa dan Nabi Adam.

Nabi Musa pun pernah mendebat Adam, dan mempertanyakan Adam as:

Ya Adam, Anda kan Abul  Basyar (Bapaknya manusia) kenapa sampai turun ke bumi?. Seandainya masih ada di surga maka kami pun semua manusia pasti akan ada di surga sampai hari ini.

Nabi Adam hanya tersenyum, lalu menjawab: Ya Musa, Anda kan Kalimullah (orang yang selalu diajak dialog oleh Allah secara langsung). Mengapa tidak langsung saja tanya kepada Allah, kenapa Allah punya skenario tertentu hingga menurunkan saya ke bumi?

Jawaban Nabi Adam ini membuat Nabi Musa terdiam.

Nah sekali lagi. Allah mengajarkan bahwa dari dialog Musa dengan Khidir dan Musa dengan Adam ini kita diminta merenung, bahwa tingkatan orang berilmu menurut Imam As-Syafi'i ada 3:

*Tahap Pertama*, *Orang yang merasa berilmu*. Merasa Bisa. Bukan bisa merasa.

Pada tahap ini, seringkali orang yang berilmu akan merasa banyak tahu tentang banyak hal. Perasan ini akan rawan memicu kesombongan dan merasa paling hebat.

*Tahap Kedua*, Orang yang rendah hati/Tawadhu. Ketika ilmu bertambah, ia akan mulai memahami seluk beluk ilmu dan hakikat hidup, lalu menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.

*Tahap Ketiga, Orang Yang Makin Sadar dirinya tidak bisa apa-apa*. Ini adalah tahapan puncak kedewasaan. Ia berilmu tapi merasa gak berilmu, ia tahu tapi merasa tidak banyak tahu. Orang yang sudah pada tahapan ini merasa bahwa ilmu Allah sangat luas.

Karena itu melalui khutbah jumat ini, perlu disampaikan bahwa setelah pulang ibadah haji jadilah kita semua orang-orang yang:

1. Menghargai orang lain siapapun dia. Karena nabi Muhammad menyampaikan kalian anak keturunan dari Adam yang satu. Adam dari tanah. Tidak ada beda antara orang Arab dan non Arab kecuali ketaqwaannya.

2. Kemuliaan seseorang bukan pada sorbannya, bukan pula peci putihnya, bukan karena jenggotnya lebih panjang, jidatnya lebih hitam, bukan pula karena sudah haji, bukan karena kekayaannya, ataupun jabatannya, tetapi orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah SWT (QS. Al-Hujurat:13)

3. Janganlah kita suka mengkafir-kafirkan, musyrikin, membid'ah-bid'ahkan orang lain, dan menganggap orang lain ahli neraka. Karena boleh jadi mereka lebih baik dan lebih mulia dari kita.

4. Doakan orang lain masuk surga dan jauhkan dari menjustifikasi orang lain sebagai ahli neraka. Karena surga itu tidak seluas kecamatan saja. Tapi surga itu seluas langit dan bumi. Semua orang beriman bisa masuk surga. Surga bukan milik keluarga, tapi surga untuk semua hamba Allah SWT yang dicintai dan dirihai-Nya.

Mengakhiri khutbah Jumat ini ada cerita sahabat nabi yang disebut nabi 3x selama 3 hari dalam majlisnya sebagai ahli surga, saat ditelusuri oleh Abdullah bin Umar ternyata ia jarang tahajjud, jarang sedekah, jarang baca al-Qur'an, tidak hafal al-Quran, bukan imam masjid, ia hanya jamaah biasa tetapi setiap malam jelang tidurnya ia selalu mendoakan orang lain yang menzhaliminya dan memaafkannya serta minta ampun kepada Allah kalau ia ada salah karena suu'uzhan (buruk sangka) atau bahkan menghina orang lain. Ia merasa malu nanti di hari kiamat kalau pernah merendahkan orang lain. Karena ia merasa tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan.

Jamaah Dhuyufur Rahman sekalian.

Menjadi haji adalah menjadi orang yang lebih bijak dan tawadhu. Nanti setelah sampai di Indonesia jadilah haji yang kepala dan dadanya luas, berpikirnya luwes serta tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda paham.

Mari kita ihramkan hati, pikiran, batin kita. Agar putih bersih seperti kain ihram haji dan umrah kita. Amiin.

Barakallahu lakum.

Wallahu A'lam bis Shawab.

(Ahmad Ghozi Siddiq, Syisha, Mekkah, 19 Dzulhijjah 1447H/5 Juni 2026).