Menapaki Ribuan Anak Tangga Ke Gua Hira: Belajar dari Surah Al-Insyirah, Mengapa Perlu Lapang Dada?
Makkah - jmpdnews
Rabu sore 21 Dzulhijjah 1447 Hijriyah bertepatan dengan 10 Juni 2026, kemarin adalah waktu yang Allah SWT bentangkan kesempatan buat kita semua untuk berikhtiar berkunjung ke gua Hira, tempat Rasulullah Saw bertahannus/uzlah/kontemplasi hingga mendapatkan wahyu pertama QS. Al-Alaq:1-5.
Tulisan ini ingin mengungkap berapa luar biasanya berlapang dada itu.
Dalam satu surat di Alquran, ada nama surat *al-Insyirah*, tahukah kita maknanya itu? Al-Insyirah itu memiliki arti kelapangan dada. Ayat pertamanya adalah:
Alam Nasyrah laka shodrok.
Bukanlah Aku telah lapangkan dadamu (Ya Muhammad).
Berlapang dada adalah kunci untuk menghadapi, menghayati, dan menikmati kehidupan.
Hidup ini tidak akan selalu mudah – Life is Never Flat, sebagaimana pesan dari Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitabnya *Al-Hikam*: Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih hidup di dunia, karena memang seperti itulah watak asli dunia. Penuh tantangan. Maka biasakanlah untuk berlapang dada.
Masalah akan selalu ada dan datang silih berganti, tapi bukan itu masalahnya, There are always problems and that is not the problem. Semua bergantung pada kemampuan kita menyikapinya.
Menapaki ribuan anak tangga bukan hal yang mudah. Pengunjung Jabal Nur menuju gua Hira di kawasan Distrik Hira, Mekkah, mulai berusaha menaiki tangga yang ribuan itu mulai sore hari. Pukul 17.20 wajah Asia, Arab, Afrika, dan sedikit Eropa dan Amerika sudah mulai bersemangat menaiki anak tangga mulai dari District Hira. Hal ini karena melihat cuaca panas yang berangsur mulai menurun. Di sinilah perlunya lapang dada.
Rombongan haji Mandiri kloter 38 dari Bekasi yang sampai di tujuan pukul 17.10 menit lalu dikumpulkan lebih dulu untuk briefing. Masing-masing diminta meyakinkan diri, jika merasa sanggup silakan naik, jika tidak merasa sanggup lebih baik di bawah saja dan bisa lihat-lihat museum gua Hira dan museum Alquran (ada 2 museum di kawasan distric Hira) dan juga bisa cari-cari kuliner menarik seperti bakso onta.
Di sini kelapangan dada teman-teman terlihat, sekitar 15 orang menyatakan tidak naik karena merasa tidak sanggup begitu melihat tingginya Jabal Nur.
Nah berlapang dada adalah pondasi penting agar bisa merespon kehidupan dengan tepat, hingga pada akhirnya mengundang kemudahan urusan, kerelaan, menarik keberuntungan, dan membuka peluang-peluang kebaikan.
Jadi, kalau begitu apa itu lapang dada?
*Pertama, Kemampuan untuk menemukan emosi dan energi positif*
Artinya, kita bisa melihat segala sesuatu dengan positif, lega, bersyukur, dan penuh dengan rasa keindahan sesuai kadar kemampuan kita.
Ya Rabb....bersyukur sekali dan bahagia rasanya sebagian teman-teman yang berusaha menaiki anak tangga menuju ke gua hira ternyata ada yang sampai puncak Jabal Nur lalu merapat ke gua Hira juga.
Kami melihat betapa bahagianya wajah-wajah sumringah yang bisa sampai di sana. Haji Abdul Rozak, Haji Anwar, dan Haji Junaedi Abdullah dari ceritanya menjadi kesan yang menyenangkan saat kami mendengarnya. Di gua Hira seakan mereka disapa bebatuan dengan kalimat *Ahlan wa marhaban Pak haji, mohon bersabar untuk masuk ke gua ya, karena antri*. Karena di kepala semua pengunjung ingin melihat dan menghadirkan suasana masa lalu saat Muhammad Rasulullah Saw bisa ada di gua kecil tersebut, hingga ada pertanyaan, bagaimana ya kok Rasulullah Saw bisa hobi selalu ingin ke tempat ini, padahal tempat ini dulunya sempit, bukitnya terjal, penuh bebatuan, belum ada tangga lagi. Pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab siapapun tapi terjawab dengan Wahyu surat Al-Alaq dan menjadi histori yang abadi dalam al-quran dan sejarah umat manusia.
Ya Rabb. Saya sempat diskusi sambil ngos-ngosan saat naik anak tangga dengan beberapa teman saat mendengar ada ungkapan turis Malaysia yang bilang: ayo semangat, kalau tidak sampai gua hira dimaklumi, karena sebagian kita sudah di atas 50 tahun, dulu Rasulullah usianya 40 tahun saat naik ke gua hira, tenaganya sedang kuat-kuatnya. Dalam hati kami betul juga ya kalimat turis Malaysia ini. Legowo dan ikhlas kunci Rasulullah Saw dulu datang jauh-jauh ke gua Hira, sebagai refleksi sejarah.
*Kedua, melihat saat ini dengah penuh damai, tenang, kagum, khusyu’ dan melihat masa depan dengan optimis, yakin dan penuh harapan*
Saya dengan teman haji yang tentara dan bertugas sebagai Paspampres sampailah di pertengahan destinasi ribuan anak tangga tsb, sekitar 700-an anak tangga. Lalu kami mampir sebentar di cafe lalu beli kopi dan seruput kopi sebentar. 5 menit berselang teman Paspampres tadi lanjut naik ke tahap selanjutnya 1000 anak tangga. Adapun saya dengan istri menikmati view Zamzam Clock Tower yang luar biasa sambil lanjut menyeruput kopi berdua sambil memandangi lembayung sore dan mega merah yang perlahan muncul dengan senyum manisnya menandai hampir datangnya waktu malam (maghrib).
Jadi, saat kami di pertengahan jalan sudah ngos-ngosan, kami melihat dengan penuh damai dan tenang lalu memutuskan cukuplah di sini saja. Karena sebagian ibu-ibu sebelumnya pun juga sudah lelah dan mencukupkan ikhtiarnya di track awal dan memutuskan berhenti di toko souvenir yang jaraknya sekitar 300-400 anak tangga saja. Dirasa nafas sudah cukup ngos-ngosan, apalagi istri bilang tidak apa-apa, di sini juga sudah bahagia, bisa menikmati view pemandangan ke arah Zam-zam Clock Tower yang amat indah.
Saat itu lembayung sore mulai bergelayut menyapa dengan senyumnya ke semua orang di langit kota Mekkah. Kata istri saya, sebagai ganti ke gua Hira kita simpan tenaga kita saja untuk umrah nanti.
*Ketiga, Kemampuan mengganti emosi negatif dengan energi positif*
Sebagian teman yang di bawah kawasan distrik Hira juga luar biasa. Mereka semua mampu membaca sinyal dari emosi negatif kekecewaan karena tidak bisa naik ke arah gua Hira...itu hal tersirat yang dirasakan. Agar tidak kecewa karena keinginan naik ke gua Hira tidak dapat dilakukan, energi negatif itu mereka gantikan langsung dengan energi positif dengan cara melihat museum gua Hira. Sebanyak 7 orang masuk museum dengan tiket 25 riyal.
Subhanallah, di akhir acara di museum mereka diberi kesempatan berphoto di depan gua Hira, tanpa naik ke ribuan anak tangga ke gua Hira mereka bisa berphoto di depan gua Hira, sendirian lagi photonya. Subhanallah, mirip sekali. 95% hampir menyamai aslinya.
*Keempat, mampu mengendalikan diri, memaafkan, menyerahkan dan melepaskan*
Ini juga luar biasa kami melihat beberapa teman haji yang sudah sampai lalu turun ke bawah Kawasan Wisata Distric Hira kembali. Setelah salat Maghrib saya tanya bagaimana setelah turun dari atas, masih ingin umrah? Sebagian besar menyatakan tidak. Karena lelah. Inilah kemampuan luar biasa untuk mengendalikan diri dengan memaafkan diri sendiri untuk melepaskan hal yang dikhawatirkan akan membuat kelelahan lalu legowo. Kesempatan untuk berumrah adalah hal yang sangat baik, namun dengan kelegaan hati harus dilepas dulu sementara dan memilih rehat di hotel.
*Kelima, mengelola energi menjadi semangat pantang menyerah (resilience)*
Di sisi lain, ada juga teman yang yang sampai paling dulu di gua Hira dan kembali lebih dulu lagi ke bawah distric Hira. Saat ditanya mau lanjut umrah? Jawabannya iya dong. Subhanallah....sebuah semangat membara, tangguh, dan kemampuan resiliensi (daya lenting) yang luar biasa.
*Keenam, mampu menumbuhkan keceriaan di semua aspek*
Semua peserta kunjungan ke gua Hira tampak ceria. Lelah memang betul. Tapi tetap menumbuhkan keceriaan di semua aspek dan sisi. Sehingga kami bercanda dengan beberapa teman dan juga sopir orang Bangladesh saat saya ngobrol dengan bahasa Arab...teman² asyik menyimak terkait pecahnya rombongan jadi beberapa kelompok.
Kesimpulan obrolannya, saat canda dengan teman-teman, bahwa akhirnya kami pecah menjadi 3 kelompok, pertama kelompok ahlussunnah wal jamaah yang tetap ingin umrah, kedua kelompok mu'tazilah yang merubah haluan dari umrah lalu diubah dengan ke harom saja. Ketiga kelompok murjiah, yaitu kelompok yang sudah pasrah saja karena lelah, merubah niatnya umrah lalu ingin pulang ke hotel saja, dan mau tidur di hotel. Hehe.
Akhirnya dari 3 kelompok mengerucut menjadi 2, yakni kelompok ahlussunnah yang tetap istiqomah untuk umrah, dan kelompok murjiah, yang pasrah untuk kembali ke hotel langsung. Istilah ahlus sunnah, mu'tazilah dan murjiah di atas hanyalah canda sambil ketawa untuk membuat suasana ceria.
Demikian pentingnya kelapangan dada yang dapat membuat kita selalu bahagia dalam kondisi apapun.
Semoga kita selalu memiliki kelapangan dada dalam kondisi dan suasana apapun.
Amiiin.
Wallahu A'lam bis Shawab.
(Ahmad Ghozi Siddiq, Syisyah, Mekkah, Kamis, 22 Dzulhijjah 1447/11 Juni 2026M)



Komentar via Facebook