SISWA SDN WALUYA 02 SABET EMAS KOMPETISI ADEPT DI MALAYSIA, ATHA FATHURRAHMAN BUKTIKAN TALENTA MATEMATIKA BEKASI GO INTERNATIONAL

Avatar photo

JMPD News - Admin

, 07 Agustus 2026 | 87x

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

SISWA SDN WALUYA 02 SABET EMAS KOMPETISI ADEPT DI MALAYSIA, ATHA FATHURRAHMAN BUKTIKAN TALENTA MATEMATIKA BEKASI GO INTERNATIONAL

CIKARANG UTARA – jmpdnews

Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Kabupaten Bekasi. Atha Fathurrahman, siswa kelas 2 SDN Waluya 02, Kecamatan Cikarang Utara, berhasil mengharumkan nama Kabupaten Bekasi di kancah internasional setelah meraih medali/penghargaan Gold dalam Kompetisi ADEPT (Achievement in Diverse Educational Progress and Talent) Competition Olympiad 2025/2026 bidang Matematika yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kompetisi tersebut menjadi salah satu ajang yang mempertemukan siswa berprestasi dari berbagai negara. Atha berhasil melewati rangkaian seleksi hingga akhirnya tampil pada babak final internasional yang dilaksanakan pada 30 Mei 2026 di Malaysia.

Bukan sekadar menjadi peserta, siswa yang masih duduk di bangku kelas 2 SD itu mampu menunjukkan kemampuan matematikanya dan membawa pulang kategori Gold, sekaligus memperoleh kategori Diamond setelah mampu menjawab sekitar 90 persen soal dengan benar.

Momen pengumuman pemenang menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Atha.

“Senang. Waktu nama saya belum dipanggil, mulai dari juara Honorable Mention, juara dua, sampai akhirnya nama saya dipanggil, juara 1, saya sempat keluar air mata,” ujar Atha saat ditemui di SDN Waluya 02, Jumat (7/8/2026).

Atha mengaku sangat senang dapat mengikuti kompetisi di Kuala Lumpur. Ia berangkat bersama ayah, ibu dan oma, serta menghabiskan waktu sekitar tiga hari di Malaysia.

“Lombanya di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya berangkat naik pesawat bersama ayah, ibu, dan oma. Di sana sekitar tiga hari,” tuturnya dengan antusias.

Bukan Prestasi Instan

Prestasi Atha tidak diraih secara tiba-tiba. Di balik medali yang dibawanya pulang, terdapat proses panjang berupa latihan, seleksi dan pengalaman mengikuti berbagai kompetisi matematika.

Rahman, ayah Atha, menjelaskan bahwa kemampuan putranya mulai terlihat sejak masih berada di taman kanak-kanak. Atha kemudian mengikuti berbagai kompetisi, baik secara daring maupun luring, hingga akhirnya memperoleh kesempatan tampil dalam kompetisi internasional.

“Awalnya kami ikut les di sebuah lembaga, kemudian Atha mendapatkan beasiswa. Dari sana dia mengikuti berbagai lomba secara online yang memang sudah masuk taraf internasional. Ada babak penyisihan dan final, jadi tidak langsung ikut kemudian mendapatkan juara,” jelas Rahman.

Menurut Rahman, Atha bahkan sudah mengikuti kompetisi matematika sejak TK. Meski pada awalnya belum memperoleh hasil maksimal dan hanya meraih juara harapan dalam salah satu kompetisi nasional, pengalaman tersebut justru menjadi proses pembelajaran yang membangun mental dan kemampuan Atha.

“Dari TK dia sudah ikut lomba matematika nasional. Memang waktu itu baru mendapatkan juara harapan, tetapi kami melihat memang sudah ada bakat dan ketertarikan,” katanya.

Orang Tua Tidak Memaksa

Menariknya, capaian Atha menurut sang ayah bukan lahir dari tekanan orang tua untuk terus mengikuti perlombaan.

Keluarga justru berusaha membaca minat anak dan memberikan ruang agar potensi tersebut berkembang secara alami.

“Kami sebagai orang tua tidak pernah memaksa. Awalnya dia tertarik dengan planet dan benda-benda bulat, kemudian mulai tertarik dengan negara dan dari situ mulai suka berhitung. Kami melihat minatnya, lalu kami carikan wadah yang sesuai,” ungkap Rahman.

Pola tersebut menjadi salah satu pelajaran penting bagi orang tua lainnya. Prestasi anak tidak selalu harus dibentuk melalui tekanan, tetapi dapat tumbuh ketika minat, bakat, dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan berjalan bersama.

Sekolah Dorong Siswa Berani Berprestasi

Kepala SDN Waluya 02 Kecamatan Cikarang Utara, Eber, menyambut positif prestasi yang diraih Atha.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar pun mampu bersaing di tingkat internasional apabila memiliki kedisiplinan, kemauan belajar dan dukungan yang memadai.

“Kalau ingin berprestasi, ya harus disiplin. Kalau ingin menjadi orang baik juga harus disiplin. Disiplin menjadi salah satu program sekolah dan kami terus menanamkan itu kepada anak-anak,” tegas Eber.

Pihak sekolah juga berkomitmen memberikan apresiasi terhadap siswa-siswa yang memiliki prestasi. Capaian Atha nantinya akan diperkenalkan kepada warga sekolah sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi siswa lainnya.

“Kami sangat mengapresiasi dan sangat luar biasa atas prestasi Atha. Ke depan, Atha dan siswa kami yang berprestasi lainnya akan kami perkenalkan di lingkungan sekolah. Tujuannya untuk mendorong anak-anak lain dan para orang tua agar semakin termotivasi,” pungkasnya.

Dari Waluya untuk Dunia

Prestasi Atha menjadi kabar positif bagi dunia pendidikan Kabupaten Bekasi. Di tengah tantangan peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan talenta anak, keberhasilan seorang siswa sekolah dasar menembus kompetisi internasional menjadi bukti bahwa potensi besar dapat lahir dari sekolah mana pun.

Medali Gold yang diraih Atha bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga dan SDN Waluya 02, tetapi juga menjadi pesan bahwa anak-anak Kabupaten Bekasi memiliki kemampuan untuk bersaing di panggung internasional.

Kini tantangannya adalah bagaimana prestasi tersebut tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi menjadi pintu untuk terus mengembangkan kemampuan Atha sekaligus menginspirasi lahirnya lebih banyak talenta muda dari Kabupaten Bekasi.

JMPDNews – Mengawal Fakta, Mengangkat Prestasi.