IRONI DI RUMAH ALLAH: HENDAK KUMANDANGKAN AZAN, MARBOT MASJID DI PURWAKARTA TEWAS DIBACOK
Jmpdnews
IRONI DI RUMAH ALLAH: HENDAK KUMANDANGKAN AZAN, MARBOT MASJID DI PURWAKARTA TEWAS DIBACOK
PURWAKARTA – Suara azan seharusnya menjadi panggilan yang menenangkan hati. Ia mengajak manusia meninggalkan sejenak kesibukan dunia, menundukkan kepala dan menghadap Sang Pencipta.
Namun, Kamis siang, 6 Agustus 2026, suasana di sekitar Masjid Al-Muhajirin, Purwakarta, justru berubah menjadi duka.
Seorang marbot berinisial AS (65), yang selama ini mengabdikan dirinya menjaga dan merawat masjid, harus meregang nyawa ketika hendak menjalankan salah satu tugas yang begitu akrab dengan kehidupannya: mengumandangkan azan Zuhur.
Menurut informasi kepolisian, AS diserang menggunakan senjata tajam. Peristiwa itu bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar: mengapa sebuah konflik antarmanusia bisa berakhir begitu tragis, bahkan terjadi ketika korban hendak menyeru orang lain untuk beribadah?
Polisi kemudian mengamankan seorang pria berinisial FS (35), yang disebut merupakan tetangga korban.
Dari informasi awal yang disampaikan kepolisian, dugaan motif berkaitan dengan rasa sakit hati akibat perkataan korban yang dianggap menyinggung kondisi ekonomi pelaku.
Jika fakta tersebut nantinya terbukti dalam proses penyidikan dan persidangan, kasus ini menjadi gambaran betapa berbahayanya ketika persoalan perkataan, harga diri dan emosi tidak mampu dikendalikan.
Satu kalimat yang mungkin dianggap sederhana dapat diterima berbeda oleh orang lain. Perselisihan yang semula hanya berada di tingkat verbal dapat berubah menjadi kemarahan, kemudian berkembang menjadi tindakan yang tidak dapat ditarik kembali.
Dan ketika senjata berbicara, penyesalan biasanya datang terlambat.
MARBOT BUKAN SEKADAR PENJAGA MASJID
Marbot sering kali bekerja dalam kesunyian.
Ketika jamaah pulang, ia masih memastikan pintu masjid aman. Ketika lantai kotor, ia yang membersihkannya. Ketika pengeras suara bermasalah, ia yang memperbaikinya. Ketika waktu salat tiba, ia memastikan rumah Allah siap digunakan.
Tidak banyak yang mengenal kehidupan mereka.
Tidak banyak pula yang bertanya berapa besar penghasilan mereka.
Tetapi mereka tetap hadir.
Mereka menjaga masjid ketika sebagian orang bahkan belum tentu mengingat keberadaan masjid tersebut.
Karena itu, kematian AS semestinya tidak hanya dipandang sebagai sebuah kasus kriminal biasa.
Ada pesan sosial yang jauh lebih besar di balik tragedi ini.
Masjid harus menjadi tempat yang aman. Marbot harus dipandang sebagai bagian penting dari ekosistem kehidupan umat. Dan masyarakat harus belajar bahwa persoalan antarwarga tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan.
JANGAN BIARKAN EMOSI MENGALAHKAN AKAL SEHAT
Kasus Purwakarta ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga lisan sama pentingnya dengan menjaga tangan.
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang biasa. Tersinggung adalah perasaan manusiawi. Tetapi ketika rasa tersinggung berubah menjadi kebencian dan kebencian berubah menjadi kekerasan, akibatnya bisa menghancurkan kehidupan banyak orang.
Satu orang meninggal.
Satu keluarga kehilangan orang yang dicintai.
Keluarga pelaku menghadapi kenyataan pahit.
Dan kehidupan dua keluarga dapat berubah untuk waktu yang sangat panjang.
Semua berawal dari konflik yang seharusnya bisa diselesaikan tanpa kekerasan.
Kini proses hukum harus berjalan.
Polisi memiliki kewajiban mengungkap fakta secara terang. Jaksa akan menilai perkara berdasarkan alat bukti. Dan pengadilan nantinya yang menentukan kesalahan serta pertanggungjawaban pidana seseorang.
Tetapi masyarakat juga mempunyai pekerjaan yang tidak kalah penting: belajar dari tragedi ini.
Jangan menunggu seseorang meninggal untuk menyadari pentingnya menjaga ucapan.
Jangan menunggu darah tertumpah untuk menyadari bahwa kemarahan harus dikendalikan.
Dan jangan sampai rumah Allah yang seharusnya menjadi tempat menenangkan jiwa justru menjadi saksi sebuah tragedi kemanusiaan.
AS mungkin telah pergi.
Namun suara azan yang hendak dikumandangkannya menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia begitu singkat.
Hari ini kita mungkin masih berdiri di masjid.
Besok, belum tentu.
Karena itu, sebelum azan berikutnya terdengar, barangkali ada satu hal yang perlu kita lakukan:
berdamai dengan sesama, menjaga lisan, menahan amarah, dan jangan pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar.
JMPDNews — Mengabarkan Fakta, Mengawal Keadilan.



Komentar via Facebook