IMAM FATUROCHMAN DAN GAYA “MANAJEMEN SEJATI” DI DISDIK KABUPATEN BEKASI

Avatar photo

JMPD News - Admin

, 11 Agustus 2026 | 51x

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

IMAM FATUROCHMAN DAN GAYA “MANAJEMEN SEJATI” DI DISDIK KABUPATEN BEKASI

BEKASI — jmpdnews 

Memimpin Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi dengan cakupan wilayah yang luas tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan kemampuan membaca persoalan, membangun komunikasi dan yang paling penting, keberanian turun langsung melihat kondisi pendidikan di lapangan.

Hal itu yang belakangan terlihat dari pola kepemimpinan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Imam Faturochman.

Imam tidak hanya mengandalkan laporan yang masuk ke meja dinas. Dalam sejumlah agenda pendidikan, ia hadir langsung ke sekolah dan berinteraksi dengan kepala sekolah, guru, peserta didik maupun orang tua.

Salah satunya terlihat saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Imam hadir di SMP Negeri 1 Tambun Selatan dan menekankan agar MPLS menjadi kegiatan yang edukatif, aman, ramah dan bermakna bagi peserta didik.

Gaya seperti ini menunjukkan bahwa manajemen pendidikan tidak cukup dilakukan dari balik meja.

Pemimpin harus melihat langsung persoalan yang dihadapi bawahannya.

Dalam konteks birokrasi pendidikan, kunjungan ke sekolah bukan sekadar agenda seremonial. Jika dilakukan secara konsisten, kunjungan lapangan dapat menjadi instrumen manajemen untuk mengetahui kondisi riil sekolah, mendengar keluhan guru, melihat kebutuhan sarana-prasarana serta mengevaluasi pelaksanaan kebijakan.

Imam juga terlihat membawa pendekatan komunikasi. Ketika berada di lingkungan sekolah, interaksi dengan peserta didik dan orang tua menjadi bagian penting untuk membaca bagaimana kebijakan pendidikan diterima masyarakat.

Inilah yang bisa disebut sebagai “manajemen sejati”: bukan hanya memerintah, tetapi melihat, mendengar, mengevaluasi dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi lapangan.

Namun demikian, publik tentu tetap memiliki hak untuk mengawasi.

Kunjungan lapangan harus berujung pada perbaikan nyata. Sekolah yang dikunjungi harus mendapatkan tindak lanjut, persoalan yang ditemukan harus memiliki solusi dan kebijakan Disdik harus dapat diukur hasilnya.

Sebab ukuran keberhasilan seorang Kadisdik bukan seberapa sering turun ke sekolah.

Ukuran sesungguhnya adalah seberapa banyak persoalan pendidikan yang berhasil diselesaikan setelah ia turun ke lapangan.

Di tangan Imam Faturochman, publik kini menunggu apakah pola kepemimpinan turun langsung, komunikasi terbuka dan pengelolaan berbasis persoalan lapangan tersebut mampu menjadi budaya baru di Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi.

Karena pendidikan tidak cukup dikelola dengan administrasi. Pendidikan membutuhkan kepemimpinan yang hadir.

JMPDNews | Mengawal Kebijakan, Menguji Kinerja, Membela Kepentingan Publik.